Rabu, 30 November 2011

Askep DHF dan DIare

 
BAB II
ISI

2.1 Asuhan Keperawatan Pada Kasus DHF
2.1.1 Definisi DHF
Dengue haemorhagic fever (DHF) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue sejenis virus yang tergolong arbovirus dan masuk kedalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegypty (Christantie Efendy,1995 ).
Dengue haemorhagic fever (DHF) adalah penyakit yang terdapat pada anak dan orang dewasa dengan gejala utama demam, nyeri otot dan nyeri sendi yang disertai ruam atau tanpa ruam. DHF sejenis virus yang tergolong arbo virus dan masuk kedalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegypty (betina) (Seoparman , 1990).
DHF adalah demam khusus yang dibawa oleh aedes aegypty dan beberapa nyamuk lain yang menyebabkan terjadinya demam. Biasanya dengan cepat menyebar secara efidemik. (Sir,Patrick manson,2001).
Dengue haemorhagic fever (DHF) adalah suatu penyakit akut yang disebabkan oleh virus yang ditularkan oleh nyamuk aedes aegypty (Seoparman, 1996).
Dari beberapa pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa dengue haemorhagic fever (DHF) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue sejenis virus yang tergolong arbovirus dan masuk kedalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegypty yang terdapat pada anak dan orang dewasa dengan gejala utama demam, nyeri otot dan nyeri sendi yang disertai ruam atau tanpa ruam.

2.1.2 Penyebab ( Etiologi ) DHF
a.      Virus dengue termasuk dalam kelompok arbovirus B. Dikenal 4 serotif virus dengue yang saling tidak mempunyai imunitas silang.
b.       Virus dengue tergolong dalam family Flavividae dan dikenal ada 4 serotif, Dengue 1 dan 2 ditemukan di Irian ketika berlangsungnya perang dunia ke II, sedangkan dengue 3 dan 4 ditemukan pada saat wabah di Filipina tahun 1953-1954. Virus dengue berbentuk batang, bersifat termoragil, sensitif terhadap in aktivitas oleh diatiter dan natrium diaksikolat, stabil pada suhu 70 oC. Keempat serotif tersebut telah di temukan pula di Indonesia dengan serotif ke 3 merupakan serotif yang paling banyak.
2.1.3 Pencegahan DHF
Prinsip yang tepat dalam pencegahan DHF ialah sebagai berikut :
1.      Memanfaatkan perubahan keadaan nyamuk akibat pengaruh alamiah dengan melaksanakan pemberantasan vector pada saat sedikit terdapatnya kasus DHF/DSS.
2.      Memutuskan lingkaran penularan dengan menahan kepadatan vector pada tingkat sangat rendah untuk memberikan kesempatan penderita viremia sembuh secara spontan.
3.      Mengusahakan pemberantasan vector di pusat daerah penyebaran yaitu di sekolah dan rumah sakit termasuk pula daerah penyangga di sekitarnya.
4.      Mengusahakan pemberantasan vector di semua daerah berpotensi penularan tinggi.
2.1.4 Patofisiologi
Virus akan masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk aedes aegypty. Pertama-tama yang terjadi adalah viremia yang mengakibatkan penderita mengalami demam, sakit kepala, mual, nyeri otot, pegal-pegal diseluruh tubuh, ruam atau bintik-bintik merah pada kulit (petekie), hyperemia tenggorokan dan hal lain yang mungkin terjadi seperti pembesaran kelenjar getah bening, pembesaran hati (Hepatomegali) dan pembesaran limpa (Splenomegali).
Kemudian virus akan bereaksi dengan antibody dan terbentuklah kompleks virus-antibody. Dalam sirkulasi akan mengaktivasi system komplemen. Akibat aktivasi C3 dan C5 akan dilepas C3a dan C5a, dua peptida yang berdaya untuk melepaskan histamine dan merupakan mediator kuat sebagai factor meningkatnya permeabilitas dinding kapiler pembuluh darah yang mengakibatkan terjadinya perembesan plasma ke ruang ekstra seluler.
Perembesan plasma ke ruang ekstra seluler mengakibatkan berkurangnya volume plasma, terjadi hipotensi, hemokonsentrasi, dan hipoproteinemia serta efusi dan renjatan (syok). Hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit > 20 %) menunjukkan atau menggambarkan adanya kebocoran (perembesan) plasma sehingga nilai hematokrit menjadi penting untuk patokan pemberian cairan intravena.
Terjadinya trobositopenia, menurunnya fungsi trombosit dan menurunnya faktor koagulasi (protombin dan fibrinogen) merupakan faktor penyebab terjadinya perdarahan hebat , terutama perdarahan saluran gastrointestinal pada DHF.
Adanya kebocoran plasma ke daerah ekstra vaskuler dibuktikan dengan ditemukannya cairan yang tertimbun dalam rongga serosa yaitu rongga peritoneum, pleura, dan pericard yang pada otopsi ternyata melebihi cairan yang diberikan melalui infus.
Setelah pemberian cairan intravena, peningkatan jumlah trombosit menunjukkan kebocoran plasma telah teratasi, sehingga pemberian cairan intravena harus dikurangi kecepatan dan jumlahnya untuk mencegah terjadinya edema paru dan gagal jantung, sebaliknya jika tidak mendapatkan cairan yang cukup, penderita akan mengalami kekurangan cairan yang dapat mengakibatkan kondisi yang buruk bahkan bisa mengalami renjatan.
Jika renjatan atau hipovolemik berlangsung lama akan timbul anoksia jaringan, metabolik asidosis dan kematian apabila tidak segera diatasi dengan baik. Gangguan hemostasis pada DHF menyangkut 3 faktor yaitu : perubahan vaskuler, trombositopenia dan gangguan koagulasi.
Pada otopsi penderita DHF, ditemukan tanda-tanda perdarahan hampir di seluruh tubuh, seperti di kulit, paru, saluran pencernaan dan jaringan adrenal.
2.1.5 Tanda dan Gejala
a.      Demam tinggi selama 5 – 7 hari
b.      Mual, muntah, tidak ada nafsu makan, diare, konstipasi.
c.       Perdarahan terutama perdarahan bawah kulit, petechie, echymosis, hematoma.
d.      Epistaksis, hematemisis, melena, hematuri.
e.      Nyeri otot, tulang sendi, abdoment, dan ulu hati.
f.        Sakit kepala.
g.      Pembengkakan sekitar mata.
h.      Pembesaran hati, limpa, dan kelenjar getah bening.
i.        Tanda-tanda renjatan (sianosis, kulit lembab dan dingin, tekanan darah menurun, gelisah, capillary refill lebih dari dua detik, nadi cepat dan lemah).
2.1.6 Klasifikasi Klinis
a.      Derajat I :
Demam disertai gejala klinis lain atau perdarahan spontan, uji turniket positi, trombositopeni dan hemokonsentrasi.
b.      Derajat II :
Manifestasi klinik pada derajat I dengan manifestasi perdarahan spontan di bawah kulit seperti peteki, hematoma dan perdarahan dari lain tempat.
c.       Derajat III :
Manifestasi klinik pada derajat II ditambah dengan ditemukan manifestasi kegagalan system sirkulasi berupa nadi yang cepat dan lemah, hipotensi dengan kulit yang lembab, dingin dan penderita gelisah.
d.      Derajat IV :
Manifestasi klinik pada penderita derajat III ditambah dengan ditemukan manifestasi renjatan yang berat dengan ditandai tensi tak terukur dan nadi tak teraba.
2.1.7        Pemeriksaan Penunjang
a.      Darah
1)      Trombosit menurun.
2)      HB meningkat lebih 20 %
3)      HT meningkat lebih 20 %
4)      Leukosit menurun pada hari ke 2 dan ke 3
5)      Protein darah rendah
6)      Ureum PH bisa meningkat
7)      NA dan CL rendah
b.      Serology : HI (hemaglutination inhibition test).
1)      Rontgen thorax : Efusi pleura.
2)       Uji test tourniket (+)
2.1.8        Penatalaksanaan
a.      Tirah baring
b.      Pemberian makanan lunak .
c.       Pemberian cairan melalui infus.
Pemberian cairan intra vena (biasanya ringer lactat, nacl) ringer lactate merupakan cairan intra vena yang paling sering digunakan , mengandung Na + 130 mEq/liter , K+ 4 mEq/liter, korekter basa 28 mEq/liter , Cl 109 mEq/liter dan Ca = 3 mEq/liter.
d.      Pemberian obat-obatan : antibiotic, antipiretik,
e.      Anti konvulsi jika terjadi kejang
f.        Monitor tanda-tanda vital ( T,S,N,RR).
g.      Monitor adanya tanda-tanda renjatan
h.      Monitor tanda-tanda perdarahan lebih lanjut
i.        Periksa HB,HT, dan Trombosit setiap hari.
2.1.9 Asuhan Keperawatan Pada Anak DHF
A.      Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal yang dilakukan perawat untuk mendapatkan data yang dibutuhkan sebelum melakukan asuhan keperawatan . pengkajian pada pasien dengan “DHF” dapat dilakukan dengan teknik wawancara, pengukuran, dan pemeriksaan fisik. Adapun tahapan-tahapannya meliputi :
a.      Mengkaji data dasar, kebutuhan bio-psiko-sosial-spiritual pasien dari berbagai sumber (pasien, keluarga, rekam medik dan anggota tim kesehatan lainnya).
b.       Mengidentifikasi sumber-sumber yang potensial dan tersedia untuk memenuhi kebutuhan pasien.
c.       Kaji riwayat keperawatan.
d.      Kaji adanya peningkatan suhu tubuh ,tanda-tanda perdarahan, mual, muntah, tidak nafsu makan, nyeri ulu hati, nyeri otot dan sendi, tanda-tanda syok (denyut nadi cepat dan lemah, hipotensi, kulit dingin dan lembab terutama pada ekstrimitas, sianosis, gelisah, penurunan kesadaran).

B.      Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada kasus DHF diantaranya :
1.      Kekurangan volume cairan berhubungan dengan peningkatan permeabilitas kapiler, perdarahan, muntah dan demam.
2.       Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi virus dengue.
3.      Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual, muntah, tidak ada nafsu makan.
4.      Kurang pengetahuan keluarga tentang proses penyakit berhubungan dengan kurangnya informasi
5.      Resiko terjadinya perdarahan berhubungan dengan trombositopenia.
6.      Shock hipovolemik berhubungan dengan perdarahan
C.      Rencana Asuhan Keperawatan
1.      Gangguan volume cairan tubuh kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningkatan permeabilitas kapiler, perdarahan , muntah dan demam.
Tujuan :
Gangguan volume cairan tubuh dapat teratasi
Kriteria hasil :
Volume cairan tubuh kembali normal
Intervensi :
1)      Kaji KU dan kondisi pasien
2)       Observasi tanda-tanda vital ( S,N,RR )
3)      Observasi tanda-tanda dehidrasi
4)      Observasi tetesan infus dan lokasi penusukan jarum infuse
5)      Balance cairan (input dan out put cairan)
6)      Beri pasien dan anjurkan keluarga pasien untuk memberi minum banyak
7)      Anjurkan keluarga pasien untuk mengganti pakaian pasien yang basah oleh keringat.
2.      Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi virus dengue.
Tujuan
Hipertermi dapat teratasi
Kriteria hasil
Suhu tubuh kembali normal
Intervensi
1)      Observasi tanda-tanda vital terutama suhu tubuh
2)      Berikan kompres dingin (air biasa) pada daerah dahi dan ketiak
3)      Ganti pakaian yang telah basah oleh keringat
4)      Anjurkan keluarga untuk memakaikan pakaian yang dapat menyerap keringat seperti terbuat dari katun.
5)       Anjurkan keluarga untuk memberikan minum banyak kurang lebih 1500 – 2000 cc per hari
6)      kolaborasi dengan dokter dalam pemberian Therapi, obat penurun panas.
3.      Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual, muntah, tidak ada nafsu makan.
Tujuan
Gangguan pemenuhan nutrisi teratasi
Kriteria hasil
Intake nutrisi klien meningkat
Intervensi
1)      Kaji intake nutrisi klien dan perubahan yang terjadi
2)       Timbang berat badan klien tiap hari
3)      Berikan klien makan dalam keadaan hangat dan dengan porsi sedikit tapi sering
4)      Beri minum air hangat bila klien mengeluh mual
5)      Lakukan pemeriksaan fisik Abdomen (auskultasi, perkusi, dan palpasi).
6)      Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian Therapi anti emetik.
7)      Kolaborasi dengan tim gizi dalam penentuan diet.
4.      Kurang pengetahuan keluarga tentang proses penyakit berhubungan dengan kurangnya informasi
Tujuan
Pengetahuan keluarga tentang proses penyakit meningkat
Kriteria hasil
Klien mengerti tentang proses penyakit DHF
Intervensi
1)      Kaji tingkat pendidikan klien.
2)       Kaji tingkat pengetahuan keluarga tentang proses penyakit DHF
3)      Jelaskan pada keluarga klien tentang proses penyakit DHF melalui Penkes.
4)      beri kesempatan pada keluarga untuk bertanya yang belum dimengerti atau diketahuinya.
5)      Libatkan keluarga dalam setiap tindakan yang dilakukan pada klien
5.      Resiko terjadinya perdarahan berhubungan dengan trobositopenia.
Tujuan
Perdarahan tidak terjadi
Kriteria hasil
Trombosit dalam batas normal
Intervensi
1)      Kaji adanya perdarahan
2)       Observasi tanda-tanda vital (S.N.RR)
3)      Antisipasi terjadinya perlukaan / perdarahan.
4)      Anjurkan keluarga klien untuk lebih banyak mengistirahatkan klien
5)      Monitor hasil darah, Trombosit
6)      Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therapi ,pemberian cairan intra vena.
6.      Shock hipovolemik berhubungan dengan perdarahan
Tujuan
Shock hipovolemik dapat teratasi
Kriteria hasil
Volume cairan tubuh kembali normal, kesadaran compos mentis.
Intervensi
1)      Observasi tingkat kesadaran klien
2)      Observasi tanda-tanda vital (S, N, RR).
3)      Observasi out put dan input cairan (balance cairan)
4)      Kaji adanya tanda-tanda dehidrasi
5)      kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therapi cairan.
2.2 Asuhan Keperawatan pada Kasus Diare
2.2.1 Definisi Diare
Diare merupakan suatu keadaan pengeluaran tinja yang tidak normal atau tidak seperti biasanya. Perubahan yang terjadi berupa perubahan peningkatan volume, keenceran, dan frekuensi dengan atau tanpa lender darah, seperti lebih dari 3kali/hari dan pada neonates lebih dari 4 kali/hari.
Beberapa pengertian lain tentang diare adalah sebagai berikut :
Ø  Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk cairan atau setengah cairan, dengan demikian kandungan air pada tinja lebih banyak dari keadaan normal yakni 100-200 ml sekali defekasi (Hendarwanto, 1999).
Ø   Menurut WHO (1980) diare adalah buang air besar encer atau cair lebih dari tiga kali sehari.
Ø  Diare ialah keadaan frekuensi buang air besar lebih dari 4 kali pada bayi dan lebih dari 3 kali pada anak dengan konsistensi feses encer, dapat berwarna hijau atau dapat bercampur lendir dan darah (Ngastiyah, 1997).
2.2.2 Etiologi (Penyebab) Diare
Beberapa factor yang menyebabkan terjadinya diare diantaranya adalah sebagai berikut :
1)      Factor Infeksi
Proses ini dapat diawali dengan adanya mikroorganisme (kuman) yang masuk kedalam saluran pencernaan yang kemudian berkembang didalam usus dan merusak sel mukosa intestinal yang dapat menurunkan daerah permukaan intestinal sehingga terjadinya perubahan kapasitas dari intestinal yang akhirnya mengakibatkan gangguan fungsi intestinal dalam absorpsi cairan dan elektrolit. Adanya toksin bakteri juga akan menyebabkan system transpor menjadi aktif dalam usus, sehingga sel mukosa mengalami iritasi dan akhirnya sekresi cairan dan elektrolit akan meningkat.
2)      Factor malabsorpsi
Merupakan kegagalan dalam melakukan absorpsi yang mengakibatkan tekanan osmotic meningkat kemudian akan terjadi pergeseran air dan elektrolit kerongga usus yang dapat meningkatkan isi rongga usus sehingga terjadilah diare.
3)      Factor makanan
Dapat terjadi apabila toksin yang ada tidak mampu diserap dengan baik dan dapat terjadi penungkatan peristaltic usus yang akhirnya menyebabkan penurunan kesempatan untuk menyerap makan. 
4)      Factor psikologis
Dapat mempengaruhi terjadinya peningkatan peristaltic usus yang dapat mempengaruhi proses penyerapan makanan.
2.2.3 Patofisiologi
Mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare ialah:
1.      Gangguan osmotic
Adanya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotik dalam lumen usus meningkat sehingga terjadi pergeseran air dan elektroloit ke dalam lumen usus. Isi rongga usus yang berlebihan akan merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga timbul diare.
2.       Gangguan sekresi
Akibat rangsangan tertentu (misalnya toksin) pada dinding usus akan terjadi peningkatan sekresi, air dan elektrolit ke dalam lumen usus dan selanjutnya timbul diare kerena peningkatan isi lumen usus.
3.      Gangguan motilitas usus
Hiperperistaltik akan menyebabkan berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap makanan sehingga timbul diare. Sebaliknya bila peristaltik usus menurun akan mengakibatkan bakteri tumbuh berlebihan, selanjutnya dapat timbul diare pula.
2.2.4 Manifestasi Klinis
Diare akut karena infeksi dapat disertai muntah-muntah, demam, tenesmus, hematoschezia, nyeri perut dan atau kejang perut. Akibat paling fatal dari diare yang berlangsung lama tanpa rehidrasi yang adekuat adalah kematian akibat dehidrasi yang menimbulkan renjatan hipovolemik atau gangguan biokimiawi berupa asidosis metabolik yang berlanjut. Seseoran yang kekurangan cairan akan merasa haus, berat badan berkurang, mata cekung, lidah kering, tulang pipi tampak lebih menonjol, turgor kulit menurun serta suara menjadi serak. Keluhan dan gejala ini disebabkan oleh deplesi air yang isotonik.
Karena kehilangan bikarbonat (HCO3) maka perbandingannya dengan asam karbonat berkurang mengakibatkan penurunan pH darah yang merangsang pusat pernapasan sehingga frekuensi pernapasan meningkat dan lebih dalam (pernapasan Kussmaul)
Gangguan kardiovaskuler pada tahap hipovolemik yang berat dapat berupa renjatan dengan tanda-tanda denyut nadi cepat (> 120 x/menit), tekanan darah menurun sampai tidak terukur. Pasien mulai gelisah, muka pucat, akral dingin dan kadang-kadang sianosis. Karena kekurangan kalium pada diare akut juga dapat timbul aritmia jantung.
Penurunan tekanan darah akan menyebabkan perfusi ginjal menurun sampai timbul oliguria/anuria. Bila keadaan ini tidak segera diatsi akan timbul penyulit nekrosis tubulus ginjal akut yang berarti suatu keadaan gagal ginjal akut.
2.2.5 Penatalaksanaan
Melakukan rehidrasi pada pasien. Tindakan rehidrasi ini dilakukan berdasarkan tingkat atau derajat dari dehidrasi, apabila terjadi dehidrasi ringan – sedang dapat dilakukan rehidrasi secara oral dengan memberikan cairan pedialyte (ricelite) kemudian menungkat ke makanan biasa yang mudah dicerna, seperti : roti, nasi, biji – bijian, dan ASI. Rehidrasi terbagi menjadi 2 tipe cairan yaitu :
ü  Tipe satu yaitu cairan formula lengkap yang mengandung NaCl, NaHCO3, KCl dan glukosa. Formula ini dikenal dengan nama oralit.
ü  Tipe dua adalah tipe formula sederhana yang hanya mengandung NaCl dan sukrosa (garam dan gula) atau karbonhidrat lainnya.
Rehidrasi ini dilakukan berdasarkan derajat dehidrasinya dengan ketentuan pemberian sebagai berikut :
1.      Dehidrasi ringan : 1jam pertama 25 – 50 ml/kgBB selanjutnya 125 ml/kgBB/hari.
2.      Dehidrasi sedang : 1 jam pertama 50 – 100 ml/kgBB selanjutnya 125 ml/kgBB/hari.
3.      Dehidrasi berat : dapat dilihat pada rincian sebagai berikut ;
Ø  Bayi Baru Lahir (Berat Badan 2 – 3 kg)
Kebutuhan cairan 125 ml + 100 ml + 25 ml : 250ml/kgBB/24 jam dengan pemberian cairan 4:1 (4 glukosa 5% + 1 NaHCO311/2%) dengan cara pemberian: 4 jam pertama 25ml/kgBB/jam, 20 berikutnya 150ml/kgBB/20jam.
Ø  Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BB < 2kg)
Kebutuhan cairan : 250ml/kgBB/24jam, pemberian cairan adalah 4 glukosa 10% + 1 NaHCO311/2%, dengan pemberian 4 jam pertama 25ml/kgBB/jam, 20 jam berikutnya 150 ml/kgBB/20jam.
Ø  Usia 1 Bulan – 2 Tahun (BB 3 – 10 Kg)
Cara pemberiannya adalah 1 jam pertama  40ml/kgBB/jam kemudian dilanjutkan 7 jam berikutnya 12ml/kgBB/menit dan 16 jam kemudian 125ml/kgBB.
Ø  Usia 2 – 5 Tahun (BB 10 – 15 kg)
Cara pemberian adalah 1 jam pertama 30ml/kgBB/jam kemudian dilanjutkan 7 jam berikutnya 10ml/kgBB/menit dan 16 jam kemudian 125ml/kgBB.
Ø  Usia 5 – 10 Tahun (BB 15 – 25 kg)
Cara pemberian adalah 1 jam pertama 20ml/kgBB/jam kemudian dilanjutkan 7 jam berikutnya 10ml/kgBB/menit dan 16 jam kemudian 105ml/kgBB.
o   Observasi terhadap jumlah cairan yang masuk dan keluar (mengukur status hidrasi), seperti tugor kulit, muntahan, membrane mukosa, BB, mata dan ubun – ubun besar.
o   Memantau adanya tanda rejatan hipovolemik, seperti ; denyut jantung atau nadi cepat tapi kecil, tekanan darah menurun dan kesadaran menurun.
o   Pantau adanya tanda asidosis metabolic
o   Memberikan penjelasan kepada keluarga tentang hal – hal yang menyebabkan kurangnya volume cairan, factor yang menyebabkan terjadinya diare,dll.
Penatalaksanaan medis antara lain dalam pemberian terapi adalah sebagai berikut ;
1.      Antibiotic hanya diberikan apabila ada penyebab yang jelas, seperti kolera maka diberikan tetrasiklin 25 – 50 mg/kgBB/hari atau antibiotic lainnya sesuai dengan jenis penyebabnya.
2.      Obat spasmolitik seperti papaverin
3.      Obat antisekresi seperti asetosal, klopromazin
4.      Memberikan nutrisi (makanan) setelah dehidrasi teratasi yang mengandung cukup kalori, protein, mineral, dan vitamin atau selama diare perlu ditambahkan jumlah kalori sebanyak 30%protein 3 – 5 g/kgBB/hari yang pada umumnya adalah 2,5 g/kgBB/hari.  
5.      Pada bayi pertahankan pemberian ASI atau lakukan pemberian penggantian air susu (bagi yang tidak minum asi), tapi lakukan pengenceran, seperti pada pemberian penggantian air susu ibu (PASI) pada hari pertama encerkan 1/3, hari kedua 2/3. Apabila defekasi membaik, maka berikan penuh dengan sesuai dengan ketentuan PASI. Adapun susu formula yang dianjurkan adalah susu dengan kadar laktosa rendah, mengandung asam lemak tidak jenuh,seperti LLM, almiron,dll.
6.      Melakukan pemantauan dan pengukuran status gizi atau tanda kecukupan nutrisi, seperti BB, tugor kulit, bising usus, kemampun menelan, dan jumlah asupan.
7.      Memberikan penkes terhadap keluarga tentang bagaimana mencegah makanan yang dapat menyebabkan diare, cara menstrerilkan botol susu dan hygine lingkungan.
8.      Melakukan penggantian popok dengan sering dan mengkaji setiap saat setelah buang air besar atau kecil
9.      Memberi salep pemulas atau bedak pada daerah rectum dan perineum
10.  Mengajarkan kepada keluarga untuk menjaga kebersihan atau hygine pada daerah sekitar rectum dan perineum serta cara mengganti popok dan bedak.
2.2.6 Asuhan Keperawatan Pada Anak Diare

        i.            Identitas
Perlu diperhatikan adalah usia. Episode diare terjadi pada 2 tahun pertama kehidupan. Insiden paling tinggi adalah golongan umur 6-11 bulan. Kebanyakan kuman usus merangsang kekebalan terhadap infeksi, hal ini membantu menjelaskan penurunan insiden penyakit pada anak yang lebih besar. Pada umur 2 tahun atau lebih imunitas aktif mulai terbentuk. Kebanyakan kasus karena infeksi  usus asimptomatik dan kuman enterik menyebar terutama klien tidak menyadari adanya infeksi. Status ekonomi juga berpengaruh terutama dilihat dari pola makan dan perawatannya .
      ii.            Keluhan Utama
BAB lebih dari 3 x
    iii.            Riwayat Penyakit Sekarang
BAB warna kuning kehijauan, bercamour lendir dan darah atau lendir saja. Konsistensi encer, frekuensi lebih dari 3 kali, waktu pengeluaran : 3-5 hari (diare akut), lebih dari 7 hari ( diare berkepanjangan), lebih dari 14 hari (diare kronis).
     iv.            Riwayat Penyakit Dahulu
Pernah mengalami diare sebelumnya, pemakian antibiotik atau kortikosteroid jangka panjang (perubahan candida albicans dari saprofit menjadi parasit), alergi makanan, ISPA, ISK, OMA campak.
       v.            Riwayat Nutrisi
Pada anak usia toddler makanan yang diberikan seperti pada orang dewasa, porsi yang diberikan 3 kali setiap hari dengan tambahan buah dan susu. kekurangan gizi pada anak usia toddler sangat rentan,. Cara pengelolahan makanan yang baik, menjaga kebersihan dan sanitasi makanan, kebiasan cuci tangan,
     vi.            Riwayat Kesehatan Keluarga
Ada salah satu keluarga yang mengalami diare.
   vii.            Riwayat Kesehatan Lingkungan
Penyimpanan  makanan pada suhu kamar, kurang menjaga kebersihan, lingkungan tempat tinggal. 
 viii.            Riwayat Pertumbuhan dan perkembangan
a.      Pertumbuhan
Ø  Kenaikan BB karena umur 1 -3 tahun berkisar antara 1,5-2,5 kg (rata-rata 2 kg),  PB 6-10 cm (rata-rata 8 cm) pertahun.
Ø  Kenaikan linkar kepala : 12cm ditahun pertama dan 2 cm ditahun kedua dan seterusnya.
Ø  Tumbuh gigi 8 buah : tambahan gigi susu; geraham pertama dan gigi taring, seluruhnya berjumlah 14 – 16 buah
Ø  Erupsi gigi : geraham perama menusul gigi taring.
b.      Perkembangan
Ø  Tahap perkembangan Psikoseksual menurut Sigmund Freud.
Fase anal :
Pengeluaran tinja menjadi sumber kepuasan libido, meulai menunjukan keakuannya, cinta diri sendiri/ egoistic, mulai kenal dengan tubuhnya, tugas utamanyan adalah latihan kebersihan, perkembangan bicra dan bahasa (meniru dan mengulang kata sederhana, hubungna interpersonal, bermain).
Ø  Tahap perkembangan psikososial menurut Erik Erikson.
Autonomy vs Shame and doundt
Perkembangn ketrampilan motorik dan bahasa dipelajari anak toddler dari lingkungan dan keuntungan yang ia peroleh Dario kemam puannya untuk mandiri (tak tergantug). Melalui dorongan orang tua untuk makan, berpakaian, BAB sendiri, jika orang tua terlalu over protektif menuntut harapan yanag terlalu tinggi maka anak akan merasa malu dan ragu-ragu seperti juga halnya perasaan tidak mampu yang dapat berkembang pada diri anak.
Ø  Gerakan kasar dan halus, bacara, bahasa dan kecerdasan, bergaul dan mandiri : Umur 2-3 tahun :
a)      berdiri  dengan satu kaki tampa berpegangan sedikitpun  2 hitungan (GK)
b)      Meniru membuat garis lurus (GH)
c)      Menyatakan keinginan   sedikitnya dengan dua kata (BBK)
d)      Melepasa pakaian sendiri (BM)
     ix.            Pemeriksaan Fisik
a)      pengukuran panjang badan, berat badan menurun, lingkar lengan mengecil, lingkar kepala, lingkar abdomen membesar,
b)       keadaan umum : klien lemah, gelisah, rewel, lesu, kesadaran menurun.
c)      Kepala : ubun-ubun tak teraba cekung karena sudah menutup pada anak umur 1 tahun lebih
d)      Mata : cekung, kering, sangat cekung
e)      Sistem pencernaan : mukosa mulut kering, distensi abdomen, peristaltic meningkat > 35 x/mnt, nafsu makan menurun, mual muntah, minum normal atau tidak haus, minum lahap dan kelihatan haus, minum sedikit atau kelihatan bisa minum
f)       Sistem Pernafasan : dispnea, pernafasan cepat > 40 x/mnt karena asidosis metabolic (kontraksi otot pernafasan)
g)      Sistem kardiovaskuler : nadi cepat > 120 x/mnt dan lemah, tensi menurun pada diare sedang .
h)      Sistem integumen : warna kulit pucat, turgor menurun > 2 dt, suhu meningkat > 375 derajat celsius, akral hangat, akral dingin (waspada syok), capillary refill time memajang > 2 dt, kemerahan pada daerah perianal.
i)        Sistem perkemihan : urin produksi oliguria sampai anuria (200-400 ml/ 24 jam ), frekuensi berkurang dari sebelum sakit.
j)        Dampak hospitalisasi : semua anak sakit yang MRS bisa mengalami stress yang berupa perpisahan, kehilangan waktu bermain, terhadap tindakan invasive respon yang ditunjukan adalah protes, putus asa, dan kemudian menerima.
       x.            Pemeriksaan Penunjang
a)      Laboratorium :
Ø  Feses kultur : Bakteri, virus, parasit, candida
Ø  Serum elektrolit : Hipo natremi, Hipernatremi, hipokalemi
Ø  AGD : asidosis metabolic ( Ph menurun, pO2 meningkat, pcO2 meningkat,HCO3 menurun ) Faal ginjal : UC meningkat (GGA)
b)      Radiologi : mungkin ditemukan bronchopneumonia
B. Diagnosa Keperawatan Diare
1. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan kehilangan cairan sekunder terhadap diare.
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan diare atau output berlebihan dan intake yang kurang
3. Resiko peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi skunder terhadap diare
4. Resiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan peningkatan frekwensi diare.
5. Resiko tinggi gangguan tumbuh kembang berhubungan dengan BB menurun terus menerus.
6. Kecemasan anak berhubungan dengan tindakan invasive
C. Rencana Asukan Keperawatan
Diagnosa 1: Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan kehilangan cairan skunder terhadap diare
Tujuan :
setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam keseimbangan dan elektrolit dipertahankan secara maksimal
Kriteria hasil :
Ø  Tanda vital dalam batas normal (N: 120-60 x/mnt, S; 36-37,50 c, RR : < 40 x/mnt )
Ø  Turgor elastik , membran mukosa bibir basah, mata tidak cowong, UUB tidak cekung.
Ø  Konsistensi BAB lembek, frekwensi 1 kali perhari
Intervensi :
1.      Pantau tanda dan gejala kekurangan cairan dan elektrolit
2.      Pantau intake dan output
3.      Timbang berat badan setiap hari
4.      Anjurkan keluarga untuk memberi minum banyak pada kien, 2-3 lt/hr
5.      Kolaborasi :
Ø  Pemeriksaan laboratorium serum elektrolit (Na, K,Ca, BUN)
Ø  Cairan parenteral ( IV line ) sesuai dengan umur
Ø  Obat-obatan : (antisekresin, antispasmolitik, antibiotik)
Rasional :
1.      Penurunan sirkulasi volume cairan menyebabkan kekeringan mukosa dan pemekatan urin. Deteksi dini memungkinkan terapi pergantian cairan segera untuk memperbaiki deficit
2.      Dehidrasi dapat meningkatkan laju filtrasi glomerulus membuat keluaran tak adekuat untuk membersihkan sisa metabolisme.
3.      Mendeteksi kehilangan cairan , penurunan 1 kg BB sama dengan kehilangan cairan 1 lt
4.      Mengganti cairan dan elektrolit yang hilang secara oral
5.      Kolaborasi :
Ø  koreksi keseimbang cairan dan elektrolit, BUN untuk mengetahui faal ginjal (kompensasi).
Ø  Mengganti cairan dan elektrolit secara adekuat dan cepat.
Ø  anti sekresi untuk menurunkan sekresi cairan dan elektrolit agar simbang, antispasmolitik untuk proses absorbsi normal, antibiotik sebagai anti bakteri berspektrum luas untuk menghambat endotoksin.
Diagnosa 2 : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak adekuatnya intake dan out put
Tujuan        :
setelah dilakukan  tindakan perawatan selama dirumah di RS kebutuhan nutrisi terpenuhi
Kriteria        :
Ø  Nafsu makan meningkat
Ø  BB meningkat atau normal sesuai umur
Intervensi :
1.      Diskusikan dan jelaskan tentang pembatasan diet (makanan berserat tinggi, berlemak dan air terlalu panas atau dingin)
2.      Ciptakan lingkungan yang bersih, jauh dari bau  yang tak sedap atau sampah, sajikan makanan dalam keadaan hangat
3.      Berikan jam istirahat (tidur) serta kurangi kegiatan yang berlebihan
4.      Monitor  intake dan out put dalam 24 jam
5.      Kolaborasi dengan tim kesehtaan lain :
Ø  terapi gizi : Diet TKTP rendah serat, susu
Ø  obat-obatan atau vitamin ( A)
Rasional :
1.      Serat tinggi, lemak,air terlalu panas / dingin dapat merangsang mengiritasi lambung dan sluran usus.
2.      situasi yang nyaman, rileks akan merangsang nafsu makan.
3.      Mengurangi pemakaian energi yang berlebihan
4.      Mengetahui jumlah output dapat merencenakan jumlah makanan.
5.      Mengandung zat yang diperlukan , untuk proses pertumbuhan
Diagnosa 3 : Resiko peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi dampak sekunder dari diare
Tujuan        : 
Setelah dilakukan tindakan perawatan selama 3x 24 jam tidak terjadi peningkatan suhu tubuh
Kriteria hasil :
Ø  Suhu tubuh dalam batas normal ( 36-37,5 C)
Ø  Tidak terdapat tanda infeksi (rubur, dolor, kalor, tumor, fungtio leasa)
Intervensi :
1.      Monitor suhu tubuh setiap 2 jam
2.      Berikan kompres hangat
3.      Kolaborasi pemberian antipirektik
Rasional :
1.      Deteksi dini terjadinya perubahan abnormal fungsi tubuh ( adanya infeksi)
2.      merangsang pusat pengatur panas untuk menurunkan produksi panas tubuh
3.      Merangsang pusat pengatur panas di otak
Diagnosa 4 :Resiko gangguan integritas kulit perianal berhubungan dengan   peningkatan frekwensi BAB (diare)
Tujuan      :
Setelah dilakukan tindaka keperawtan selama di rumah sakit integritas kulit tidak terganggu
Kriteria hasil :
Ø  Tidak terjadi iritasi : kemerahan, lecet, kebersihan terjaga
Ø  Keluarga mampu mendemontrasikan perawatan perianal dengan baik dan benar
Intervensi :
1.      Diskusikan dan jelaskan pentingnya menjaga tempat tidur
2.      Demontrasikan serta libatkan keluarga dalam merawat perianal (bila basah dan mengganti pakaian bawah serta alasnya)
3.      Atur posisi tidur atau duduk dengan selang waktu 2-3 jam
Rasional :
1.      Kebersihan mencegah perkembang biakan kuman
2.      Mencegah terjadinya iritassi kulit yang tak diharapkan oleh karena kelebaban dan keasaman feces
3.      Melancarkan vaskularisasi, mengurangi penekanan yang lama sehingga tak terjadi iskemi dan iritasi .
Diagnosa 5 : Kecemasan anak berhubungan dengan tindakan invasif
Tujuan      :
Setelah dilakukan tindakan perawatan selama 3 x 24 jam, klien mampu beradaptasi
Kriteria hasil : 
Mau menerima  tindakan perawatan, klien tampak tenang dan tidak rewel
Intervensi :
1.      Libatkan keluarga dalam melakukan  tindakan perawatan
2.      Hindari persepsi yang salah pada perawat dan RS
3.      Berikan pujian jika klien mau diberikan tindakan perawatan dan pengobatan
4.      Lakukan kontak sesering mungkin dan lakukan komunikasi baik verbal maupun non verbal (sentuhan, belaian dll)
5.      Berikan mainan sebagai rangsang sensori anak
Rasional :
1.      Pendekatan awal pada anak melalui ibu atau keluarga
2.      mengurangi rasa takut anak terhadap perawat dan lingkungan RS
3.      menambah rasa percaya diri anak akan keberanian dan kemampuannya
4.      Kasih sayang serta pengenalan diri perawat akan menumbuhkan rasa aman pada klien.








DAFTAR PUSTAKA

ü  Alimun, Azis Hidayat. 2008. Pengatar ilmu kesehatan anak untuk pendidikan kebidanan. Jakarta :salemba Medika.
ü  Latief.abdul,dkk. 1985. Buku kuliah 2 ilmu kesehatan anak.jakarta :infomedika
ü  http://nursingbegin.com/askep-dhf/ 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar